Kupas Tuntas Bitcoin Dalam Cangkrukan KLAS Edisi Oktober 2017


Bitcoin merupakan mata uang digital yang sedang hits bagi generasi melek internet saat ini. Begitu hits-nya sampai-sampai nilai tukar BTC (bitcoin) bisa mencapai nilai 80 juta  jika di uangkan dengan mata uang kita, Rupiah.

Apakah BTC ini merupakan satu-satunya koin digital yang bikin kawula muda sampai tua sampai ngiler dibuatnya? Tentu saja tidak, masih banyak jenis koin digital lain selain BTC yang telah di kembangkan di dunia ini, karena BTC yang merupakan cikal-bakal uang digital di kembangkan secara open source. Saking banyaknya, anda-pun tentu dapat dengan mudah mengembangkan koin digital milik anda sendiri dengan mengotak-atik kode tertentu. Ituah yang dinamakan the power of Open Source.

Untuk menjawab semua pro dan kontra mengenai koin digital dan teknologi dibaliknya, maka KLAS selaku komunitas Linux yang eksis di Surabaya mencoba untuk mengulasnya melalui sebuah forum khusus, apa lagi kalau bukan Cangkrukan KLAS edisi bulan Oktober 2017 yang bertemakan Kupas Tuntas Bitcoin.

Pada acara Cangkrukan kali ini, KLAS menghadirkan dua pemateri khusus yang mana dari masing-masing pemateri ini mempunyai konsentrasi masing-masing. Dua pemateri tersebut adalah Pak Frenavit Putra (bitcoiner sejak tahun 2012) dan Pak Noor Azam (aktivis internet Indonesia). Yang satu jago mining, yang satu jago teknologi. Klop banget.

Acara yang dimoderatori oleh Pak Joko ini dimulai dengan di umumkannya Konferensi Mini LibreOffice Indonesia yang akan di adakan pada tahun depan. Setelah memberikan sambutan, Pak Joko mempersilahkan kepada pemateri pertama, yaitu Pak Frenavit untuk memulai acara sesi pertama.

Kupas Tuntas Bitcoin Oleh Pak Frenavit

Dalam presentasinya, Pak Frenavit menyebutkan bahwa Bitcoin atau koin digital yang lain merupakan aset atau emas masa depan. Dimana tidak ada satu instansi pemerintah manapun atau perusahaan tertentu yang dapat mengontrolnya. Sehingga keamanan dalam melakukan transaksi lebih aman dengan menggunakan koin ini dari pada proses transaksi dengan cara konfensional.

Bitcoin ini awalnya di temukan oleh seorang atau sekumpulan orang yang menamai diri mereka dengan sebutan Satoshi Nakamoto. Melalui sebuah jurnal yang mereka terbitkan membahas mengenai barisan kod yang menjadi cikal bakal ditemukannya bitcoin serta koin digital yang lain.

Dalam teknologinya, bitcoin mengandalkan BLOCKCHAIN yang terenkripsi dengan algoritma enkripsi SHA-256 sehingga membutuhkan komputer canggih untuk memecahkan secret kode yang dimiliki oleh masing-masing bitcoiner.

Blockchain adalah rantai blok yang beruntun dimana setiap blok-nya digunakan untuk mengarsipkan data yang di simpan dengan proses kriptografi.

Terdapat beberapa cara untuk mendapatkan koin digital ini, yaitu dengan cara menambang dan melakukan trading atau penjualan. Sisi sulit jika harus menjadi penambang koin digital adalah harus memiliki perangkat keras tertentu, karena perolehan koin sangat bergantung dengan kinerja dari perangkat keras tersebut. Disamping itu kebutuhan konsumsi daya juga menjadi bahasan utama para penambang yang kadang menggugurkan niatnya.

Sebegitu luar biasanya, pada awal-awal terciptanya bitcoin, pizza merupakan barang pertama yang tercatat dibeli dengan menggunakan bitcoin dengan nilai 10.000 BTC pada tahun 2019. Bukan perusahaan tertentu yang mendapatkan BTC ini, melainkan orang lain yang melakukan order kemudian mendapat bayaran berupa BTC.

Dalam kehidupan nyata, pengguna akan melalui bank dalam proses transfer, dalam bitcoin sistem tersebut tidak di perlukan lagi, karena pengguna hanya mengirimkan data melalui jaringan ke mesin miner lalu dilakukan proses validasi hingga akhirnya terkirim ke penerima.

Dalam praktiknya, untuk mendapatkan koin digital, penambang harus membutuhkan hardware khusus, karena kemampuan hardware sangat di perlukan untuk mengumpulkan koin ini. Selanjutnya pemilik bitcoin akan mengirimkan data ke hardware kita untuk melakukan proses decripting kode secret yang ada, setelah data terdekrip maka selanjutnya akan di kirim kembali ke komputer induk.

Pada intinya pemilik bitcoin hanya meminjam koneksi dan perangkat keras milik penambang untuk menyelesaikan proses deskripsi, imbalannya, penambang akan mendapatkan koin digital sesuai dengan proses kinerja dari perangkat keras yang dimiliki penambang.

Koin digital juga memerlukan dompet untuk menyimpan koin dalam jaringan khusus, misalnya seperti bitcoin.co.id. Kelebihan lain dari penggunaan koin digital ini adalah bila suatu market atau layanan dompet digital ditutup, maka pemilik koin digital ini dapat dengan mudah memindahkan aset koin tersebut ke market yang lain. Fleksibel bukan.

Teknologi Dibalik BTC Oleh Pak Noor Azam

Pada sesi pertama telah di singgung pengertian dari blockchain, namun pada sesi kedua ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai terknologi dibalik E-Currency, Blockchain.

Menurut Pak Noor Azam, kata yang mudah untuk mengartikan blockchain ini adalah “kepercayaan”. Tentu anda pun masih bingung kepercayaan yang bagaimana yang di maksud dalam blockchain ini. Mari kita jabarkan.

Blockchain merupakan teknologi yang mirip dengan sistem database, namun bedanya, data-data yang dihasilkan oleh blockchain tidak disimpan pada satu perangkat saja, namun semua perangkat pada jaringan yang menggunakannya. Itulah konsep jaringan peet-to-peer yang diadopsi oleh blockchain.

Tidak ada yang bisa mengatur jaringan blockchain, baik itu pemerintah, organisasi, kelompok atau perorangan manapun, bila ada yang ingin mengaturnya itu hanya sekedar memperbairui sistem, itupun harus mendapatkan persetujuan atau suara sebanyak ± 51% dari keseluruhan pengguna jaringan.

Itulah sistem yang digunakan oleh blockchain yang merupakan teknologi dibalik terciptanya e-currency, bitcoin dan koin digital yanglain. Selain kepercayaan, blockchain juga menerapkan sistem kerahasiaan atau anonim. Jadi setiap data yang telah didaftarkan dan masuk dalam jaringan blockchain akan berupa campuran angka dan huruf, hasil dari pengacakan nama tersebutlah yang nantinya menjadi nomor rekening pendaftar atau alamat BTC yang bisa digunakan untuk melakukan berbagai-macam transaksi.

Blockchain bersifat sangat transparan, karena semua transaksi dan data pengguna dapat dilacak dengan mudah, namun pelacak tidak akan tahu alamat atau transaksi tersebut milik siapa. Hal ini kembali ke sifat blockchain yang sangat anonim.

Bagian yang paling keren adalah sistem blockchain sangat terbuka untuk siapapun atau open source. Bila terdapat kekurangan, pengguna sangat dimungkinkan untuk memperbaruinya, tentu saja hal ini kembali dengan arti blockchain yang telah disebutkan Pak Noor Azam di awal, yaitu kepercayaan. Jadi jika ada yang ingin memperbarui atau mengatasi suatu masalah pada jaringan blockchain, anda harus mendapatkan kepercayaan atau suara dari semua pengguna jaringan sebanyak 51%.

Kesimpulan

E-currency, atau cryptocurrency atau mata uang digital merupakan jenis mata uang baru yang berbasis internet, karena setiap proses yang ada mulai dari memperoleh (menambang), bertransaksi hingga melakukan transfer mata uang ini mengandalkan jaringan internet.

Galeri Foto Acara Kupas Tuntas Bitcoin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *