Hari Kebebasan Perangkat Lunak Ala Arek-Arek Poros


SFD Ala Arek-Arek Poros


Pada Sabtu (14/10/2017) telah terlaksana kegiatan seminar pengenalan open source dalam memperingati Hari Kebebasan Perangkat Lunak atau Software Freedom Day dengan mengusung tema “EVERYTHING WILL BE FUN WITH OPEN SOURCE” di Universitas Brawijaya, tepatnya di Lobby lantai 1, gedung F, Fakultas Ilmu Komputer. Acara ini diselenggarakan oleh POROS.

POROS merupakan lembaga semi otonom (LSO) yang berada di bawah naungan BEM FILKOM Universitas Brawijaya, LSO ini berfokus pada pengembangan open source.

Dalam acara yang di gelar pagi hingga siang ini di hadiri oleh Pak Sabar Suwarsono, anggota dari Paguyuban BlankOn Kota Malang dan Pak Darian Rizaludin, ketua dari Kelompok Linux Arek Suroboyo (KLAS), salah satu atau bahkan mungkin satu-satunya komunitas Linux yang masih eksis di Ibukota Jawa Timur ini.

Banyak mahasiswa FILKOM, UB, yang turut hadir memeriahkan acara ini, tak ketinggalan pula penggian open source yang lain, Pak Samsul Ma’arif misalnya, salah satu Tim Infrastruktur BlankOn-pun turut memeriahkan acara yang di gelar oleh mahasiswa/i, penerus kejayaan sumber terbuka di Indonesia.

Penasaran dengan materi yang di bawakan oleh masing-masing pembicara? Berikut ulasannya untuk anda.

 

Everything Will Be Fun With Open Source

“Semua akan menjadi menyenangkan dengan Open Source”, sebuah pokok utama yang dimuat pada seminar peringatan Hari Kebebasan Perangkat Lunak ini. Dalam presentasinya, Pak Sabar menceritakan mengenai sejarah bagaimana Free and Open Source Software (FOSS) pertama kali di bentuk hingga sampai proyek FOSS yang ada di Indonesia, BlankOn misalnya.

Dalam presentasi beliau di terangkan, Open Source seringkali bersanding dekat dengan kata dalam bahasa inggriss “FREE”, lalu apa maksudnya “free” dalam dunia FOSS?.

Free mempunyai banyak makna, misalkan bebas atau gratis, jika kita mengambil kata “gratis” untuk bersanding dengan FOSS, tentu kata tersebut tidaklah tepat, karena dalam FOSS terdapat komunitas yang besar yang tersebar di berbagai pelosok dunia, mereka bekerja secara tim, membuat atau menciptakan solusi untuk kebutuhan hidup manusia. Jika kita masih menyandingkan kata “gratis” dengan FOSS, tentu kita salah besar, bukankah pengembang juga memerlukan sesuatu untuk mencukupi kebutuhan hidup?.

Berbeda halnya jika kita menyandingkan FOSS dengan kata “bebas atau kebebasan”, ini berarti kita bebas atau mempunyai kebebasan untuk menggunakan, memodifikasi atau turut mengembangkan dan mendistribusikannya kembali. Dengan begitu kita pun secara tidak langsung turut berkontribusi dalam FOSS, bukan, bukankah ekosistem yang seperti ini-pun turut menciptakan ekosistem baru dalam pengembangan FOSS?. Sudah pasti iya.

Dalam presentasinya, Pak Sabar kemudian membandingkan antara perangkat lunak komersil, misal sistem operasi besutan Microsoft, Windows beserta perangkat lunak komersil yang lain dengan perangkat lunak bebas, misal BlankOn dan perangkat lunak bebas yang lain. Tentu jika semua di hitung berdasarkan uang, mungkin banyak yang akan beralih ke FOSS.

Berbicara mengenai proyek FOSS yang ada di Indonesia, BlankOn, Pak Sabar mengatakan, terdapat setidaknya dua cara untuk berkontribusi dalam proyek FOSS ini, yaitu a) bangga menggunakan produk FOSS dan turut menginformasikannya ke sesama, atau b) Langsung menjadi pengembang.

Proyek BlankOn terbagai menjadi beberapa tim pokok, yaitu Tim Riset, Tim Pemaket, Tim Infrastruktur, Tim Dokumentasi, Tim Kesenian, Tim Jaminan Kualitas, Tim Humas, Manajer rilis dan Kontributor Lepas.

Prinsip yang di pegang dalam berkontribusi, menurut Pak Sabar adalah bukan bagaimana kita menghasilkan suatu produk yang bagus, akan tetapi ialah bagaimana pembelajaran tentang konsisten dan komitmen berkomunitas, pembelajaran mengenai teknis ilmu dalam teori sistem operasi, pembelajaran akan nasionalisme terhadap produk negeri sendiri, pembelajaran untuk mempunyai jiwa technopreneur, pembelajaran untuk menumbuhkan rasa persatuan, dan yang terpenting ialah pembelajaran untuk selalu memiliki semangat berbagi ilmu yang dimiliki.

 

Pengenalan Open Source Melalui Komunitas Lokal

Materi ke dua dibawakan oleh Pak Darian. Beliau sedikit mengulas FOSS dan lebih banyak mengulas fungsionalitas komunitas lokal untuk masyarakat luas.

Beliau memulainya dari KLAS. Sebagai ketua dari KLAS, beliau menyampaikan KLAS merupakan sebuah perkumpulan pengguna Linux dari berbagai macam distro yang bermukim di kawasan kota Surabaya dan sekitarnya. Terdiri dari pegawai IT, mahasiswa, hingga masyarakat yang mempunyai keinginan untuk mendukung gerakan FOSS.

KLAS, kata Pak Darian, terkenal dengan penyelenggara acara yang disebut Cangkrukan KLAS, dimana acara Cangkrukan ini diselenggarakan setiap bulan. Lalu, acara seperti apa Cangkrukan KLAS ini?, terdapat 4 fokus utama dari acara Cangkrukan KLAS, yaitu a) diskusi sederhana (bahasa santainya adalah nyangkruk), b) menghindari istilah teknis dengan tujuan agar orang awam bisa memahami dengan baik, c) pembicara bebas, mulai dari SMP sampai professional, dan d) fokus pada aplikasi dan implementasinya.

Khusus mengenai pembicara pada acara Cangkrukan KLAS, pak Darian menegaskan bahwa semua orang yang mau belajar berbicara untuk menjelaskan ke orang awam boleh menjadi pembicara, karena acara ini sangat tidak menyarankan penggunaan kata-kata teknis selama acara berlangsung dan sangat di tekankan untuk menyederhanakan penggunaan istilah yang dapat di fahami oleh barbagai kalangan.

Mulai dari tahun 2008 hingga sekarang, Cangkrukan KLAS telah terlaksana dengan lebih dari 20 topik dan 50 acara terselenggara. Salah satu dari topik tersebut ada yang dibawakan oleh siswa Sekolah Menengah Pertama atau SMP yang mengulas Mudahnya Membangun Penyimpanan Data Dengan OwnCloud. Luar biasa bukan.

Lalu bagaimana memulai semuanya itu?. Pak Darian berpesan, mulailah dengan komunitas lokal kita, misal di kampus, buat pertemuan sederhana lanjutkan ke pertemuan yang lebih besar. Jika terasa sulit, Pak Darian memberikan tips, coba mulai dengan acara pesta rilis, misal pesta rilis Ubuntu, karena Ubuntu terkenal konsisten dalam hal peningkatan versi, lihat saja, rilis LTS 2 tahun sekali, sedangkan rilis non LTS diadakan 1 tahun 2 kali. Setelah itu, cobalah berkolaborasi dengan komunitas lain, untuk meningkatkan eksistensi dan relasi.

Setelah semua itu terlaksana, hal yang paling penting, kata Pak Darian, adalah adanya dokumentasi acara dan mempublikasikannya, karena poin ini adalah poin yang paling penting agar komunitas kita di kenal baik bukan hanya oleh kalangan kita, namun oleh dunia luar juga. Salam Open Source. Begitulah Pak Darian mengakhiri pembicaraannya.

 

Galeri acara Hari Kebebasan Perangkat Lunak, UB, FILKOM

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *